Celoteh penderita intermittent backache: All About Boys^^
Written on October 9, 2009 – 12:07 am | by cararroe-fox
Saya lebih suka cowo yang bau baju-habis-dilaundry daripada bau parfum, apalagi parfum mahal. Entahlah. Dalam asumsi sy sih cowo lbh bijaksana daripada cewe dalam menghabiskan duit untuk kebutuhan2 tersier, jadi ya .. pewangi pakaian lebih likeable lah. Hehe.
Good looking guy with bicycle, that’s sexy. Good looking guy with motorcycle, that’s still sexy (meskipun ada bentuk2 motor tertentu yang lebih menambah aura sexy daripada yang lain). Good looking guy with good car … agak terlalu pasaran, jadinya membosankan.
And don’t get me wrong, motor yang menambah aura sexy bukanlah motor yang jok bagian belakangnya ditinggikan dan di belakangnya nggak ada pegangannya. Motor ky gitu malah bikin sy lumayan sebel: kalo gonceng miring saya takut skoliosis, kl gonceng biasa takut lordosis. Kalau di jalan yang rata sih masih mending, nggak pegangan mana-mana juga nggak pa-pa. Tapi kalau di jalanan yang modelnya kaya track reli paris-dakkar .. gilak. Frustating.
Satu-satunya cowok di Indonesia yang tetap terlihat cakep even after I saw him smoking adalah piiiiip (residen piiiiip). Hehehehe. But I’m not that into him anyway. Emang sih, cakep gilak dan bodinya juga oke, tapi nggak charming. Ntahlah. Nggak bau musik gt kayanya. Haha.
Kalau saja nggak ada orang-yang-satu-itu, mungkin sekarang saya sudah belajar hypnotherapy. kalau sudah ahli m’hipnotis, sy akan menghipnotis diri sendiri biar jadi lesbi aja. However, karena orang-yang-satu-itu masih beredar … yah. Saya bertahan jadi hetero dulu lah. Eman e mau dilewatkan. Hehe.
Dan -kalau diingat-ingat lagi- saat pertama kali ngeliat si orang-yang-satu-itu, kesan pertama saya adalah ‘mirip ma orang yg saya suka-dari-pertengahan-SMA-sampai-tahun-kedua-kuliah.’ Pantesan dulu2 sy begitu menghindarinya: karena sy masih agak2 miserable akibat feeling-tak-terbalas yang jalan hampir empat tahun itu. Hehe. Dan sekarang, setelah banyak hal terjadi dan sy sudah berdamai dengan perasaan miserable saya, pantes aja I like him so much: soalnya emang dy tipe gw banget gt loh … dan bagusnya lagi, dia nggak se-nggak-jelas pria dari SMA itu. Hehe. Entahlah. The more I know ‘bout him, I kinda like him even more. Haha.
Eh. Dan ini bukan membicarakan makhluk yang saya-kira-laki2-tapi-ternyata-(mungkin)-banci yang sempat jadi pacar saya itu yah. Ini makhluk yang completely different. Kan waktu itu saya sedang khilaf.
Sy lebih bisa mentolerir cowok yang tampak bersemangat kalau diajak ke keramaian karena di keramaian banyak cewe cakep ‘berserakan’ daripada cowo yang di rumah mulu tapi hubungannya sama maminya juga nggak oke. Ntahlah. Yang golongan pertama terasa lebih normal aja. Yang golongan kedua … agak terlalu skizoid.
Ada beberapa orang di sekitarku yang sebenarnya oke, tapi I can never see him as a man. Entahlah. Mungkin karena di kehidupan yang lalu aku dan orang-orang itu bersaudara, jadi ya rasanya lebih kaya saudara.
I like having boyfriend, asal boyfriend-nya oke. Kalau nggak oke, ya nggak suka. Hehe.
Saya sudah belajar untuk tidak mempercayai kata-kata yang tidak koheren dengan gesture & ekspresi, no matter how convincing the words are. Tetep aja, inkoherensi = bohong. Banyak kok bohong yang bisa saya tolerir, tapi ada beberapa yang bakal bikin saya muntab. Tapi kalaupun saya muntab, nggak tak-apa2in sih. Hehehe. Paling tar hidupnya dibikin susah ma Tuhan. Ya kalau Tuhan sempet juga sih. Tuhan kan sibuk, banyak kerjaan …
Cowok yg seolah-olah hidupnya dipenuhi oleh topik2 semacam IT, gadget, computer, online game … kinda turn me off. Menurut sy dy kurang gerak dan jadinya kurang bugar. Dan kalau mendengar kata ‘kurang bugar’, yang terbayang di pikiran saya adalah keadaan immunocompromised yang rawan infeksi virus dan infeksi oportunistik … dan metabolic syndrome. Don’t ask me why, sy jg g tau knp mikir ky gt.
I kinda worry bahwa my (future) boyfriend bakal kecewa ma sy gara2 sy tidak bisa berenang dan bodoh hampir di semua sektor olahraga (selain aerobik, kalau aerobik mah sy bisa). Mungkin -bagi beberapa orang- itu agak mengejutkan krn kynya siy sy cenderung tkesan hiperaktip gt. tp nggak tll mengejutkan jg si, coz sy kn emg cenderung lbh k art drpd k sport. Well. Ntahlah. Somehow ini lebih membuat sy khawatir daripada hal2 lain seperti … apakah my future BF tu sebenarnya pembunuh bayaran atau bukan.
Oia btw. I think afgan is boring, se-boring pertikaian dan kemiskinan di afganistan yang nggak selesai2. Bodo amat dia mau falsetto dan segala jungkir baliknya itu. Persetan jg dia bilang, ‘wajahmu mengalihkan duniaku’. Still boring. Anders Edenroth, itu baru mantab. Fedi Nuril lumayan ‘something’ sih, tapi gara2 main Ayat2 Cinta, dia gagal bikin saya kepanasan. Padahal pas dia jadi pencopet di Janji Joni, saya udah melongo gitu ngeliatinnya. Nico (Nicholas Saputra maksutnya), out! Saya mau Fedi Nurilnya ajah. hwakakakak
Uhm.
Udah lah. Kayanya itu aja. Hehe.
**I don’t know why people don’t write. It’s therapeutic, it’s fun, it’s quick and easy (many daily things can be made a writing, you don’t even have to think of it), and if you’re lucky, you can make money from the writing. Hehe. Just wondering^^**