Bitchin’ bout Pemilihan Putri Indonesia 2009.
Written on October 12, 2009 – 8:05 pm | by cararroe-fox
Maaf kalo tidak benar2 banyak yang bisa dibahas. Hla saya baru mulai nonton waktu lima besar. Itupun nggak nonton full sampe belakang. Hla mboseni. Dan sy juga gak bener-bener berniat nonton sih. Cuma kebetulan aja kmaren kan mau liat take me out to, trus ternyata take me out-nya nggak ada gara2 ada PPI. Ya udah deh, nonton. Hoho.
Suasana elegannya kurang kerasa. Nggak kerasa malahan. Orchestra-nya payah. Entah emang payah beneran atau mixing-nya aja yang jelek atau kuping saya yang sedang error, jadinya yang kedengeran tu cuma suara alat2 tertentu dan kesannya jadi kaya bukan orkestra. GMCO aja kynya masih lebih blending daripada mrk tadi malem. Orkesnya pak SS apalagi. Twilite orchestra apalagi. Emang yayasan putri Indonesia kekurangan dana ya? Scr, ini di tipi gt loh acaranya. Ditonton miss universe pula. Knp gax sewa orkestra yg bgs ya? Kayanya ketua panitia penyelenggara PPI nggak terlalu memahami pentingnya choosing the right music to create the right mood. Mbuh. Pokoke begitu denger band-nya main, sy langsung punya feeling kalau acaranya ini nggak OK.
Dan –dalam hal feeling2an gini- sepertinya saya lbh sering bener daripada salah.
Keberadaan Charles Bonar Sirait dan seorang cewek entah siapa sebagai MC juga nggak membantu. Mereka gagal menciptakan suasana elegan + anggun + feminine + delicately-artistik yang sy harapkan ada di suatu acara sejenis PPI ini. Charles Bonar Sirait intonasinya hampir rata di semua kata, nggak ada penekanan di frase2 tertentu. Jadinya ya .. nggak berasa. Dan timbre-nya juga … entahlah. Sepertinya dia sedang cemas memikirkan sesuatu dan merasa bahwa dia lebih suka tidak berada di acara itu. Hehe. Sy langsung merindukan Choky dan suaranya yg ngebass ada serak2nya itu. Hwaha. Mbok Tantowi atau Helmi Yahya gitu malah lebih mending, ketok wis banyak pengalaman di dunia MC. Kl Choky kan kelebihannya karena dia tampak muda dan fresh, jd exciting. Lek Charles kiy nanggung e. Aura muda dan fresh-nya sudah hilang, tapi aura matang-dan-berpengalaman-nya belum keluar. Wis to pokoke semakin membenarkan dugaan sy bahwa acaranya nggak oke. Hehehe. Dan si cewek yang jadi temannya Charles juga nggak membantu. Chemistry-nya nggak dapat. Siapa sih dia? Kaya belum pernah liat sebelumnya di tipi … ntahlah. Dan antara dia ma Charles sepertinya tidak saling menyukai. Entahlah, kaya berebut ngomong gitu, nggak kompak. Jadinya feel sy semakin nggak oke saja. Ntahlah. I just feel like … banyak artis cewe lain yg bs ngemsi dg lbh oke –dan lbh ‘sinkron’ dengan aura cantik yang (seharusnya) dipancarkan para peserta PPI. Sebut aja para mantan putri Indonesia seperti Alya Rohali, Melanie Putria, atau Artika Sari Dewi. Atau bisa juga Maudy Koesnaedi, Susan Bachtiar, atau separah2nya ya Desy Ratnasari lah. Hla MC yg kemarin tu .. nggak tau ah. Orangnya juga nggak cantik2 amat, dan nggak mengandung ‘something’. Alya Rohali juga nggak cantik2 amat, tapi energi-nya kerasa. Bahkan Yuanita Christiani partner-nya Choky di THO dan TMO kynya lbh oke ngemsinya. Hwah. Jadi semakin sebel karena TMO sudah tergusur gara2 acara ini …
Eh iya btw. Bahasa yang dipake ma Charles ma cewe itu juga nggak terdengar ‘berkelas’. Banyak pakai bahasa Indonesia yang nggak baku. Padahal suasananya kan harusnya formal dan elegan. Bahkan Choky pas ngemsi THO dan TMO aja bahasa Indonesia-nya lebih baku dari itu –tapi nggak kaku- padahal kan kuwi acara yg rodo2 bitchy2 flirty2 gt. Hwes pokoke aneh lah. Hehe.
Yah. Untunglah yang jadi co-host adalah … the one and only, Mr. Choky Sitohang. Hwaha. Dan Melanie Putria –mantan putri Indonesia yang suarane apik kae lho. Hehehe. Jadi senang ^^ paling nggak ada satu aspek yang watch-able di acara ini. Ntahlah. Harusnya mereka yang jadi host utamanya. Lebih enak dipandang, lebih enak didengar juga. Dan aura elegan-nya .. dari sekian banyak orang di sana, termasuk para kontestan, yang paling kelihatan elegan tu ya mereka berdua. Yang ngalahin mereka cuma miss Universe aja (yang jadi penonton). Hehe
Dress-nya … saya liat pas mereka pakai batik. Allure Batik kayanya. Nggak oke juga. Kaya jarik2 biasa aja keliatannya. Yang cantik jadi keliatan biasa, yang nggak terlalu cantik jadi semakin kelelep pesonanya. Hehe. Motifnya nggak jelas siy, nggak bener-bener keliatan batik juga. Padahal sy sudah mengharapkan semacam peragaan busana sekelas Anne Avantie gitu. Hla kmaren tu .. kaya ngeliat baju batik di Beringharjo aja rasanya. Nggak ada yang baju yang bikin saya ngeces karena kepingin. Hehe. Entahlah. Sepertinya beneran yayasan PPI lagi kekurangan dana, makanya nggak bisa ambil baju dari desainer. Hihi. Yah. Gak tau jg y. Mgkn emg sy yg gax ngikutin trend atau gmn, makanya judgement-nya juga nggak oke, tapi .. entahlah. Nggak suka aja.
Kontestannya … nggak oke juga. Lek aq dadi lanang, gax turned on ah. Lebih turned on pas Sherina nyanyi “All I Ask Of You”. Haha. Dari lima besar sih kl menurut sy yang paling oke yang NAD (yang keliatan dari pandangan pertama siy, dan katanya yg menang NAD y? hoho. Berarti tebakan saya benar). Itupun nggak oke2 banget juga. NAD kayanya masuk lima besar dengan modal menjual kisah perjuangan-memperoleh-izin-lepas-jilbab. I mean, lek wis nganggo jilbab, yo lakukanlah karena Tuhan. Lek belum rela melakukannya karena Tuhan, yo mbok ra usah sisan. Pindah omah wae daripada berjilbab juz bcoz diharuskan pemerintah (hla wagu. urusan iman kan ben urusane masing2 individu ma Tuhan. kl urusan kerukunan umat beragama-nya, baru itu jadi urusan pemerintah). Hla Hla kok Tuhan dikalahke karo PPI. Hwah. Aneh kiy. Malah serasa mendukung atheisme.
Trus Sumatra Barat sih mnrt sy dipilih karena di sana sedang gempa dan prihatin, bukan karena dia punya ‘sesuatu’. DKI Jakarta IV kayanya anoreksia. Hla kurune puoll, seram betul. Banten —-meminjam istilah cowok2 single di THO— agak terlalu berisi (dan nggak kelihatan smart2 banget). Satu lagi Maluku Utara —– mnrt sy sih nggak representatip. Hla orang Maluku Utara tapi kok mukanya kaya orang Sunda. Kalo yang Papua Barat, itu baru representatip. Mukanya Papua banget. Dan malah menunjukkan bahwa there are many ways to be pretty selain being a white-skinned + long-haired lady. Hla selain yang Papua Barat itu, kayanya semua pokoke putih dan rambut panjang. Mboseni lah kl sama semua. Yah untungnya meskipun gak masuk 5 besar, yang Papua Barat tu dapet dua gelar, tp sy lupa gelarnya apa. Pokoknya salah satunya Miss Congeniality. Satunya lupa. Wis pokoke Papua Barat oke lah. Senyumnya juga senyum beneran, nggak artificial. Nice^^
**mbuh lah. Heran wae kenapa role model-nya cewek cantik jaman sekarang kiy sll berbentuk putih, kurus, dan berambut panjang. Padahal cewe Indonesia kan bentuknya macem2, dan tiap bentuk can be pretty in their own ways. Ntahlah. Sherina kuwi –meskipun putih- tapi ra langsing dan tidak berambut panjang, tapi mnurutku ttp ayu. Aura Kasih kiy putih dan berambut panjang, tapi tetep wae ra ayu. Tapi lek seksi poll cen ho’oh. Yah gt d. Harusnya mcm2. Kalo sama semua, mboseni**
Oia, ttg baju juga. Baju merah yang dipake para 5 besar juga nggak terlalu oke. Kaya keluaran butik, bukan bikinan desainer yang exclusively designed dan customized gitu. Kaya ada yang ukurannya nggak pas dan kaya nggak ada dress rehearsal-nya gt. Paling keliatan tu yang Maluku Utara. Kayanya bajunya kekecilan dan bagian bawahnya nggak nyaman, jadinya dia susah jalan. Untung nggak jatuh. Hihi. Yang Banten juga jadi keliatan lebih ‘berisi’. Kenapa gt y dy gax dikasi model laen yg sekiranya bkin dy jd kelihatan padat instead of berlemak? Wis pokoke aneh lah.
Zizi-nya juga nggak impresif. Biasa wae. Di antara para korban bencana alam gitu tetep ketok terlalu cantik dan tidak manusiawi, smcm terkesan bahwa dia ada di sana dalam rangka jatah poto doang. Pas dia di miss universe juga … tll jaim. Mulane kalah. Kalopun dy jd paling favorit (scr web miss universe), kynya itu cm gara2 penduduk Indonesia kiy jumlahnya 200juta lebih dan pada sedang jadi banci internet gara2 fesbuk, bukan karena emang dia lebih oke daripada kontestan lainnya.
Miss Universe-nya oke. Pass lagunya enak dia goyang2 scr rodo2 bitchy tp tetep seksi getoh. Hla ya mbok kaya gitu, malah ketok manusiawi. Daripada mung mlaku2 kaya manekin beroda yang diglundungke gt …
Bintang tamu yang ngisi acara juga tidak membantu. Nggak sinkron sama suasana yang –seharusnya- anggun dan elegan. Hla d’massiv gt loh. Mbok kalo acara2 kaya gini tu pilih band yang lebih bisa adaptasi terhadap berbagai situasi semacam Kahitna atau Project Pop …Hla kalo yang semacam d’massiv, t2, vierra, dan semacamnya … mrk gak jelek2 amat sih, tapi lagu2nya kiy nggak fleksibel. Rata2 lagu2 pensi semua, jadi kalo event-nya selain pensi, lagunya ‘nggak masuk’. Kl Project Pop kan oke. Kalo pas butuh yang jejingkrakan dan gila2an, bisa nyanyi I will Not Survive atau Dangdut is the music of my country. Kalau buat acara2 elegan ky gini, bisa lagu yang lebih ‘berisi’ semacam Indovers, atau mungkin yang lucu tapi masih nggak merusak suasana semacam “Ade”. Shanty juga … I like her personally. Tapi kalo secara nyanyi live … aduh. Kita sama2 tahu lah ya. Tapi Shanty nyanyi duet ma Choky Sitohang lhoooo nyanyi “Hanya Memuji”. Secara visual, oke banget. Secara audio … tidak memuaskan, tapi masih dimaafkan lah kalau mengingat kualitas musik Indonesia jaman sekarang. Tur Choky kiy timbre-nya bagus dan pitch-nya lumayan rapi e. Kalau dia latihan bener, tekniknya dibenahi, setahun dua tahun lagi gitu bisa lah jadi penyanyi bagus … Hoooooo
Po maneh?
Oia. Pertanyaan juri buat kontestan juga nggak mutu ah. Mosok ada juri yg tanya ky gini:
“Thomas Alfa Edison pernah berkata, inspirasi itu 1%, 99% lainnya kerja keras. Pertanyaannya, apakah Anda mengerti apa yang saya maksud?”
well. ada 2 tanggapan.
satu, kl sy yg ditanya ky gt, ya takjawab, “ya ngerti lah Bu. kan tadi ibu ngomongnya pake bahasa Indonesia. kl ibu ngomong pake bahasa itali, baru saya nggak ngerti”
dua, haregene masih ngutip Thomas Edison? don’t get me wrong, he’s a great guy. tapi -untuk orang yang katanya modern- tidak bisakah mempertanyakan sesuatu yg lebih aktual, misalnya, “apa langkah riil yang menurut Anda bisa dilakukan oleh seorang putri indonesia untuk meningkatkan kecerdasan bangsa?” dan kalo sy dijawab ky gt, sy bakal jawab, “menghapuskan sinetron2 tidak mutu dari tipi indonesya. hahaha”
Oke. itu pertanyaannya. Pertanyaan tidak terlalu mutu. Dan pesertanya njawabnya juga nggak mutu ah, dan tone-nya juga pada nggak smooth —tidak terkesan yakin dengan jawabannya, mung terkesan tebar pesona wae, tapi yo tidak mempesona. Gak dapet smua lah kayanya 3B-nya. Beauty pada nggak maksimal –membosankan soale kayanya waton putih rambut panjang; Brain-nya yo tidak membuatku terpesona –bahkan Shanty aja terlihat lebih charming daripada mereka. Trus behaviour —mboseni jg coz pada jaim secara tidak oke. Tidak ada yang tampak ‘berenergi’. Padahal kn kl mw jadi miss universe, harusnya tampak berenergi donk, scr para miss universe kan ngko bakal jadi bintang iklan U-C 1000. Hehehe. Hla kl gini caranya, mbok nggak usah ada PPI. Dian Sastro wae diberangkatkan ke Miss Universe, kayanya malah lebih berpeluang menang atau paling gax jadi Miss Congeniality. Haha.
Po maneh?
Kayanya itu aja. Pokoknya ini adalah acara PPI paling aneh dan paling tidak seru sepanjang yang pernah sy liat. Duh. Padahal sy lihatnya pas bagian udah lumayan klimaks lho. Gimana awal2nya ya? Lebih boring lagi dong … Hehehe.
Wis ah. Wis ntek yg mw diomongin.